Indonesia tidak hanya memiliki satu atau dua bentuk tari tradisional. Dari gerakan yang dilakukan dalam barisan rapat masyarakat Gayo, hentakan kaki dalam pertunjukan masyarakat Batak, piring yang dijaga tetap berada di tangan penari Minangkabau, hingga suara “cak” yang memenuhi pertunjukan di Bali, setiap tari membawa cerita dan konteks budayanya sendiri.
Karena itu, mengenal tarian tradisional Indonesia tidak cukup dengan menghafalkan nama dan provinsinya.
Di balik sebuah tarian ada masyarakat pendukung, lingkungan budaya, fungsi, gerak, musik, busana, properti, serta sejarah perubahan yang membuatnya tetap hidup hingga sekarang.
Daftar tarian berdasarkan provinsi memang membantu sebagai pintu masuk. Namun, satu provinsi tidak selalu berarti satu tradisi tari. Sebuah wilayah administratif dapat menjadi tempat berkembangnya berbagai komunitas dengan tradisi seni yang berbeda.
Apa yang Dimaksud dengan Tarian Tradisional?

Pengertian tari tradisional
Secara sederhana, tarian tradisional adalah bentuk seni tari yang tumbuh dan diwariskan dalam lingkungan budaya masyarakat tertentu. Pewarisan tersebut dapat berlangsung antargenerasi melalui praktik, pengajaran, pertunjukan, maupun tradisi komunitas.
Karena proses pewarisannya berlangsung dalam masyarakat, tari tradisional tidak selalu memiliki bentuk yang seragam. Gerakan, musik, busana, fungsi, dan cara pertunjukannya dapat berbeda antara satu komunitas dengan komunitas lainnya.
Istilah “tari tradisional” juga tidak otomatis berarti tari yang tidak boleh berubah. Tradisi dapat mengalami penyesuaian ketika ruang pertunjukan, masyarakat, pendidikan, teknologi, dan kebutuhan sosial berubah.
Ciri-ciri tari tradisional
Beberapa ciri yang sering ditemukan antara lain:
- diwariskan dari generasi ke generasi;
- memiliki hubungan dengan lingkungan budaya tertentu;
- mempunyai pola gerak atau aturan pertunjukan tertentu;
- menggunakan musik, vokal, atau ritme tertentu;
- dapat menggunakan busana dan properti khas;
- memiliki fungsi sosial atau budaya tertentu.
Namun, tidak semua ciri tersebut harus muncul dengan bentuk yang sama pada setiap tari.
Misalnya, Tari Saman dari masyarakat Gayo dikenal melalui gerakan tubuh yang dilakukan secara serempak dalam posisi duduk serta lantunan syair. UNESCO mencatatnya sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat Gayo di Aceh dan memasukkannya ke dalam List of Intangible Cultural Heritage in Need of Urgent Safeguarding pada 2011. (Sumber : Unesco-saman dance)
Tari tradisional dan tari kreasi: apa bedanya?
Perbedaan utamanya terletak pada konteks penciptaan dan hubungan dengan tradisi.
Tari tradisional berkembang melalui pewarisan budaya dalam masyarakat. Sementara itu, tari kreasi dapat menggunakan unsur tradisional sebagai inspirasi, tetapi mengalami pengembangan atau penciptaan baru.
Batas keduanya tidak selalu sederhana. Sebuah bentuk tari dapat berkembang dari tradisi lama sekaligus mengalami koreografi baru untuk kebutuhan panggung.
Karena itu, istilah “tradisional” sebaiknya tidak dipahami sebagai sesuatu yang sama sekali tidak mengalami perubahan.
Mengapa Tarian Tradisional Indonesia Sangat Beragam?

Keragaman tari Indonesia tidak dapat dilepaskan dari keragaman masyarakat yang mengembangkannya.
Indonesia terdiri atas banyak komunitas dengan sejarah, bahasa, lingkungan, sistem sosial, kepercayaan, dan pengalaman budaya yang berbeda. Kondisi tersebut ikut membentuk cara masyarakat mengekspresikan kehidupan melalui seni pertunjukan.
Ada tari yang berhubungan dengan upacara. Ada yang digunakan untuk penyambutan. Ada yang berkembang sebagai pertunjukan, hiburan, pergaulan, atau media penyampaian nilai.
Karena itu, lebih tepat melihat tari sebagai bagian dari konteks budaya masyarakatnya, bukan sekadar atribut sebuah provinsi.
Daftar Tarian Tradisional Indonesia dari Berbagai Daerah

Berikut beberapa contoh tarian tradisional yang berkembang di berbagai wilayah Indonesia. Daftar ini mengikuti pembagian geografis yang umum digunakan dalam pengenalan budaya, tetapi bukan daftar resmi yang menyatakan satu provinsi hanya memiliki satu tarian. Sumber-sumber mengenai 38 provinsi sendiri menggunakan pilihan tari yang berbeda.
Sumatra
1. Tari Saman — Aceh
Tari Saman merupakan bagian dari budaya masyarakat Gayo di Aceh. Penari duduk atau berlutut dalam barisan rapat dan melakukan gerakan tangan, tubuh, kepala, serta tepukan secara serempak.
Syair menjadi bagian penting pertunjukan. UNESCO mencatat bahwa syair Saman dapat berisi nasihat, pesan keagamaan, maupun tema sosial. Tradisi ini juga berkaitan dengan hubungan antarkelompok masyarakat Gayo. (Sumber : Unesco-saman dance)
Tari Saman merupakan contoh penting bahwa menyebut sebuah tari hanya sebagai “tarian Aceh” belum sepenuhnya menjelaskan masyarakat yang menjadi pendukung tradisinya.
2. Tari Tor-Tor — Sumatra Utara
Tari Tor-Tor berkembang dalam kebudayaan masyarakat Batak di Sumatra Utara. Tari ini berkaitan dengan berbagai konteks sosial dan adat, termasuk kegiatan yang melibatkan musik gondang dan busana ulos. (Sumber : Kemdikbud)
3. Tari Piring — Sumatra Barat
Tari Piring atau Tari Piriang berkembang dalam kebudayaan Minangkabau, Sumatra Barat. Ciri yang paling mudah dikenali adalah penggunaan piring sebagai properti di tangan penari.
Data pemerintah yang dikutip Indonesia Travel mencatat Tari Piring berasal dari wilayah Solok dan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2016. (Sumber : indonesia.travel-tari piring)
4. Tari Tanggai — Sumatra Selatan
Tari Tanggai dikenal sebagai salah satu tari tradisional Sumatra Selatan dan berkaitan dengan penyambutan tamu. Gerak tangan dan penggunaan properti menjadi bagian dari karakter pertunjukannya.
5. Tari Andun — Bengkulu
Tari Andun merupakan salah satu tari tradisional Bengkulu yang dikenal dalam konteks pesta perkawinan.
6. Tari Zapin — Riau
Zapin berkembang dalam lingkungan budaya Melayu dan memiliki hubungan kuat dengan tradisi musik serta pergaulan masyarakat Melayu.
7. Tari Malemang — Kepulauan Riau
Tari Malemang termasuk salah satu tari yang sering dicantumkan sebagai representasi seni tari tradisional Kepulauan Riau.
8. Tari Sekapur Sirih — Jambi
Tari Sekapur Sirih dikenal sebagai tari penyambutan yang berkembang dalam lingkungan budaya Jambi.
9. Tari Campak — Kepulauan Bangka Belitung
Tari Campak merupakan salah satu bentuk seni tari tradisional yang berkembang di Kepulauan Bangka Belitung.
10. Tari Sembah — Lampung
Tari Sembah dikenal dalam konteks penyambutan dan representasi budaya Lampung.
Jawa
11. Tari Cokek — Banten
Tari Cokek berkembang dalam lingkungan budaya masyarakat Tangerang dan memiliki hubungan dengan masyarakat Betawi-Tionghoa di wilayah tersebut.
12. Tari Blantek — Jakarta
Tari Blantek merupakan salah satu bentuk seni tari yang berkembang dalam tradisi kesenian Betawi.
13. Tari Jaipong — Jawa Barat
Jaipong berkembang sebagai bentuk seni pertunjukan Jawa Barat dan kemudian dikenal luas di tingkat nasional.
Perkembangannya menunjukkan bahwa tari tradisional dapat mengalami proses kreatif dan perubahan bentuk tanpa harus dipahami secara sederhana sebagai sesuatu yang “beku”.
14. Tari Gambyong — Jawa Tengah
Tari Gambyong merupakan salah satu tari tradisional Jawa Tengah yang dikenal melalui gerak yang halus dan terukur serta iringan gamelan Jawa.
15. Tari Serimpi — Daerah Istimewa Yogyakarta
Tari Serimpi termasuk tari klasik yang berkembang dalam lingkungan keraton Jawa. Bentuk pertunjukannya menekankan gerak yang terkontrol, ekspresi halus, serta tata busana dan iringan tradisional.
16. Reog Ponorogo — Jawa Timur
Reog Ponorogo merupakan seni pertunjukan yang berkembang di Ponorogo, Jawa Timur. Ia memperlihatkan bagaimana sebuah tradisi pertunjukan dapat menggabungkan tari, musik, karakter, kostum, dan unsur dramatik.
UNESCO mencantumkan Reog Ponorogo performing art dalam daftar Warisan Budaya Takbenda yang Memerlukan Perlindungan Mendesak pada 2024.( Sumber: Unesco – Reog Ponorogo)
Bali dan Nusa Tenggara
17. Tari Kecak — Bali
Tari Kecak merupakan salah satu seni pertunjukan Bali yang paling dikenal secara internasional. Pertunjukannya menggunakan kelompok penari laki-laki yang duduk melingkar dan menghasilkan pola vokal “cak” sebagai bagian utama iringan.
Pertunjukan Kecak juga menggabungkan unsur tari, drama, vokal, dan cerita yang berkaitan dengan tradisi Hindu Bali.
Dalam daftar UNESCO, tiga genre tari tradisional Bali tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2015.(Sumber : indonesia.travel- tari tradisional bali)
18. Tari Caci — Nusa Tenggara Timur
Tari Caci berkembang di Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Bentuk pertunjukannya menampilkan dua orang laki-laki yang berhadapan dengan perlengkapan tertentu dan gerakan yang berkaitan dengan tradisi masyarakat Manggarai.
19. Tari Mpaa Lenggo — Nusa Tenggara Barat
Mpaa Lenggo merupakan salah satu tari yang berkembang di wilayah Bima, Nusa Tenggara Barat, dan kerap dimasukkan dalam daftar tari tradisional daerah tersebut.
Kalimantan
20. Tari Monong — Kalimantan Barat
Tari Monong merupakan salah satu tari tradisional yang berkembang dalam lingkungan budaya masyarakat Dayak di Kalimantan Barat.
21. Tari Burung Enggang — Kalimantan Timur
Tari Burung Enggang berkaitan dengan masyarakat Dayak Kenyah di Kalimantan Timur. Nama tari merujuk pada burung enggang yang memiliki posisi penting dalam kebudayaan masyarakat pendukungnya.
22. Tari Magunatip — Kalimantan Utara
Tari Magunatip dikenal dari wilayah Tarakan dan Malinau. Salah satu cirinya adalah gerakan penari yang harus menghindari bilah-bilah bambu yang digerakkan secara ritmis.
23. Tari Baksa Kembang — Kalimantan Selatan
Tari Baksa Kembang berkembang dalam lingkungan budaya Banjar dan dikenal sebagai tari penyambutan. Sumber populer juga mengaitkannya dengan lingkungan Keraton Banjar.
24. Tari Mandau Talawang — Kalimantan Tengah
Tari Mandau Talawang menggunakan unsur senjata dan perisai sebagai properti pertunjukan. Nama tersebut merujuk pada mandau dan talawang, yang juga menjadi unsur penting dalam representasi budaya masyarakat Dayak.
Sulawesi
25. Tari Bamba Manurung — Sulawesi Barat
Tari Bamba Manurung dikenal dari Mamuju, Sulawesi Barat, dan menggunakan kipas sebagai salah satu properti pertunjukan.
26. Tari Dana-Dana — Gorontalo
Tari Dana-Dana berkembang dalam masyarakat Gorontalo dan dikenal sebagai tari pergaulan.
27. Tari Dero — Sulawesi Tengah
Tari Dero berkembang di Poso, Sulawesi Tengah. Salah satu cirinya adalah formasi melingkar yang melibatkan penari laki-laki dan perempuan.
28. Tari Pakarena — Sulawesi Selatan
Tari Pakarena merupakan salah satu tari tradisional yang berkembang dalam kebudayaan Makassar.
Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya mencatat bahwa Pakarena diiringi gandrang dan puik-puik, sementara gerak penarinya dikenal lambat dan lemah gemulai meskipun musik pengiringnya dapat terdengar enerjik. Sumber yang sama juga mencatat adanya lebih dari satu versi mengenai sejarah awal tarian tersebut. (Sumber: Kemdikbud – Tari Pakarena)
Perbedaan versi sejarah seperti ini penting dicatat daripada memaksakan satu cerita sebagai fakta tunggal.
29. Tari Dinggu — Sulawesi Tenggara
Tari Dinggu berkaitan dengan gambaran aktivitas masyarakat dalam mengolah hasil pertanian dan semangat gotong royong.
30. Tari Kabasaran — Sulawesi Utara
Tari Kabasaran berkembang dalam masyarakat Minahasa dan memiliki karakter kuat yang berkaitan dengan tradisi keprajuritan dan peperangan
Maluku
31. Tari Cakalele — Maluku
Cakalele dikenal sebagai salah satu tari tradisional Maluku yang menggunakan karakter gerak dan perlengkapan yang berkaitan dengan keprajuritan.
32. Tari Kapita — Maluku Utara
Tari Kapita merupakan salah satu tari yang berkembang dalam konteks budaya Maluku Utara dan sering dikaitkan dengan sejarah perjuangan serta lingkungan kesultanan.
Papua
33. Tari Suanggi — Papua Barat
Tari Suanggi merupakan bentuk ekspresi budaya yang memiliki kaitan dengan cerita dan kepercayaan masyarakat tertentu di Papua. Karena sumber mengenai latar cerita dan maknanya tidak selalu seragam, penjelasannya perlu ditempatkan dalam konteks masyarakat pendukung, bukan digeneralisasi kepada seluruh masyarakat Papua Barat.
34. Tari Pangkur Sagu — Papua
Tari Pangkur Sagu menggambarkan aktivitas yang berhubungan dengan pengolahan sagu dan kehidupan masyarakat Papua. Daftar tari yang diterbitkan detikEdu juga mengaitkannya dengan rasa syukur dan kebersamaan.
35–38. Papua dan provinsi-provinsi baru di Tanah Papua
Untuk empat provinsi baru di kawasan Papua, daftar populer sering memasukkan Tari Yospan, Afaitaneng, Aniri, dan Antoroni sebagai contoh. Namun, pemetaan seperti ini tidak boleh dibaca sebagai penetapan bahwa masing-masing tari hanya milik satu provinsi administratif.
Pembagian administratif baru tidak serta-merta menciptakan batas baru bagi tradisi budaya yang sudah berkembang sebelum pemekaran wilayah.
Karena itu, untuk artikel final Story Nusa, informasi mengenai tari dari Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua Selatan, dan Papua akan menggunakan atribusi komunitas atau wilayah budaya ketika sumbernya memungkinkan, bukan hanya label provinsi. Daftar populer memang menunjukkan adanya persoalan klasifikasi ini.

Apa Saja Unsur dalam Tarian Tradisional?
Sebuah tari tidak hanya terdiri atas gerakan.

Gerak
Gerak adalah unsur paling mudah dikenali. Ada tari dengan gerakan cepat dan serempak, ada pula yang menekankan kelembutan dan pengendalian tubuh.
Tari Saman, misalnya, memperlihatkan bagaimana perubahan tempo dan keserempakan menjadi bagian penting dari karakter pertunjukan.
Musik atau iringan
Iringan dapat berupa alat musik, vokal, tepukan, hentakan tubuh, atau kombinasi berbagai unsur.
Saman merupakan contoh menarik karena ritmenya dibentuk melalui tepukan, pukulan tubuh, dan syair, sedangkan Kecak menggunakan vokal kelompok sebagai bagian utama pertunjukan.
Busana
Busana membantu membentuk identitas visual sebuah pertunjukan. Namun, busana tari tidak selalu identik dengan pakaian adat sehari-hari.
Hubungan antara keduanya perlu dijelaskan berdasarkan konteks masing-masing masyarakat.
Baca Juga : Pakaian Adat Indonesia Lengkap 38 Provinsi: Nama, Ciri, dan Maknanyahttps://storynusa.com/pakaian-adat-indonesia-lengkap-38-provinsi/
Properti
Piring pada Tari Piring merupakan contoh jelas bagaimana properti dapat menjadi bagian tidak terpisahkan dari karakter sebuah tari.
Tari lainnya menggunakan kipas, senjata, perisai, kain, atau benda tertentu sesuai konteks pertunjukannya.
Pola lantai dan ruang pertunjukan
Posisi penari di ruang pertunjukan juga dapat menjadi bagian penting dari struktur tari.
Formasi melingkar, berbaris, berpasangan, maupun berkelompok dapat berkaitan dengan karakter koreografi dan fungsi pertunjukan.
Apa Fungsi Tarian Tradisional dalam Masyarakat?

Fungsi tari berbeda-beda menurut tradisi dan masyarakat pendukungnya.
Upacara dan ritual
Sebagian tari berkaitan dengan kegiatan adat atau keagamaan tertentu.
Penyambutan
Tari dapat digunakan untuk menyambut tamu atau menandai kehadiran seseorang dalam suatu acara.
Kehidupan sosial
Sebagian tari berfungsi sebagai media pergaulan, pertemuan, atau interaksi sosial.
Pertunjukan
Dalam perkembangannya, banyak tari hadir di panggung seni, festival, pusat kebudayaan, dan acara publik.
Pendidikan dan pewarisan
Tari juga dapat menjadi sarana mewariskan nilai, pengetahuan, bahasa, musik, dan cara hidup kepada generasi berikutnya.
Dalam konteks Saman, UNESCO mencatat bahwa pertunjukan berfungsi mempererat hubungan antarkelompok masyarakat Gayo, sementara proses transmisinya menghadapi tantangan.
Tarian Tradisional sebagai Identitas Budaya

Sebuah tari dapat menjadi bagian penting dari identitas masyarakat karena di dalamnya terkumpul banyak unsur sekaligus: gerak, bahasa, musik, busana, cerita, ruang sosial, dan pengetahuan yang diwariskan.
Tetapi identitas budaya tidak berarti setiap orang dalam suatu provinsi harus memiliki hubungan yang sama dengan sebuah tari.
Contoh yang jelas adalah Tari Saman. UNESCO secara spesifik mengaitkannya dengan masyarakat Gayo di Aceh, bukan dengan seluruh kelompok masyarakat Aceh secara seragam.
Cara melihat seperti ini membantu kita memahami budaya secara lebih akurat.
Baca Juga: Budaya Indonesia: Pengertian, Sejarah, Unsur, dan Keragamannya
Bagaimana Tarian Tradisional Berubah di Masa Kini?

Tari tradisional terus berhadapan dengan perubahan zaman.
Pertunjukan yang dahulu berlangsung dalam konteks komunitas dapat hadir di panggung festival, sekolah, pusat kebudayaan, media digital, atau destinasi wisata.
Perubahan ruang pertunjukan dapat membawa perubahan pada durasi, koreografi, jumlah penari, musik, maupun cara sebuah tari diperkenalkan kepada penonton.
Tari Kecak merupakan salah satu contoh bagaimana seni pertunjukan yang berakar pada budaya Bali juga berkembang menjadi pertunjukan yang dikenal luas oleh wisatawan.
Perubahan semacam itu tidak otomatis berarti tradisinya hilang.
Yang penting adalah memahami bagian mana yang merupakan bentuk tradisi, bagian mana yang merupakan adaptasi, dan siapa masyarakat yang terus menjaga pengetahuan tersebut.
Bagaimana Tarian Tradisional Dilestarikan?

Pelestarian tari tidak cukup dengan membuat pertunjukan sesekali.
Tradisi perlu memiliki ruang untuk dipelajari dan diwariskan.
Beberapa bentuk pelestarian antara lain:
- pendidikan tari kepada generasi muda;
- pewarisan langsung dari pelaku budaya;
- dokumentasi;
- penelitian;
- pertunjukan budaya;
- dukungan komunitas;
- ruang latihan dan sanggar;
- program pemerintah;
- pengenalan melalui museum, sekolah, dan lembaga kebudayaan.
Kasus Saman menunjukkan bahwa keberadaan sebuah tari yang telah dikenal secara internasional tetap membutuhkan proses pewarisan. UNESCO mencatat adanya penurunan transmisi dan berkurangnya penerus yang menguasai pengetahuan tradisi tersebut.
Dengan demikian, popularitas belum tentu sama dengan keberlanjutan.
Baca Juga : Tradisi dan Upacara Adat Indonesia: Pengertian,Jenis, Fungsi, dan Maknanya
FAQ Tarian Tradisional Indonesia
Apa yang dimaksud dengan tari tradisional?
Tari tradisional adalah bentuk seni tari yang berkembang dan diwariskan dalam lingkungan budaya masyarakat tertentu. Bentuk, fungsi, dan cara pewarisannya dapat berbeda antara satu komunitas dengan komunitas lainnya.
Apa saja contoh tarian tradisional Indonesia?
Contohnya antara lain Tari Saman dari masyarakat Gayo di Aceh, Tari Piring dari Minangkabau di Sumatra Barat, Tari Tor-Tor dari lingkungan budaya Batak, Tari Serimpi dari tradisi keraton Jawa, Tari Kecak dari Bali, Tari Pakarena dari Makassar, dan berbagai tari lain dari wilayah Indonesia.
Ada berapa tarian tradisional di Indonesia?
Tidak ada satu angka sederhana yang dapat digunakan untuk menyatakan jumlah seluruh tarian tradisional Indonesia. Daftar berdasarkan 38 provinsi yang beredar di publik merupakan daftar contoh, bukan katalog lengkap seluruh tradisi tari.
Apakah setiap provinsi hanya memiliki satu tarian tradisional?
Tidak. Satu provinsi dapat memiliki banyak tradisi tari yang berkembang pada komunitas dan wilayah berbeda.
Apa fungsi tari tradisional?
Fungsinya dapat berkaitan dengan upacara, penyambutan, kehidupan sosial, hiburan, pertunjukan, pendidikan, maupun pewarisan budaya. Fungsinya harus dilihat berdasarkan konteks masing-masing tari.
Apa perbedaan tari tradisional dan tari kreasi?
Tari tradisional berhubungan dengan tradisi yang diwariskan dalam masyarakat, sedangkan tari kreasi melibatkan proses pengembangan atau penciptaan koreografi baru. Dalam praktiknya, keduanya dapat saling berhubungan.
Apa saja unsur tari tradisional?
Unsur yang dapat ditemukan antara lain gerak, iringan, busana, properti, pola lantai, ruang pertunjukan, dan konteks sosial-budaya.
Apakah semua tari tradisional berasal dari zaman dahulu?
Tidak tepat menyamakan seluruh tari tradisional dengan satu periode sejarah. Setiap tradisi memiliki sejarah perkembangan yang berbeda dan sebagian mengalami perubahan bentuk dari waktu ke waktu.
Apa tari tradisional Indonesia yang masuk daftar UNESCO?
Dalam daftar UNESCO terdapat, antara lain, Saman dance yang masuk List of Intangible Cultural Heritage in Need of Urgent Safeguarding pada 2011 dan Three genres of traditional dance in Bali yang masuk Representative List pada 2015.
Bagaimana cara melestarikan tari tradisional?
Pelestarian dapat dilakukan melalui pewarisan pengetahuan, pendidikan, latihan, dokumentasi, penelitian, pertunjukan, dukungan komunitas, dan penciptaan ruang bagi tradisi untuk terus dipraktikkan
Penutup
Tarian tradisional Indonesia bukan sekadar kumpulan nama yang dapat dihafalkan berdasarkan provinsi.
Setiap tari memiliki lingkungan budaya yang membuatnya tumbuh: masyarakat yang mewariskannya, ruang tempat tari dipertunjukkan, musik yang mengiringinya, busana dan properti yang digunakan, serta fungsi yang membuatnya berarti bagi komunitas pendukung.
Karena itu, ketika kita mengenal Tari Saman, Tari Piring, Tari Tor-Tor, Kecak, Pakarena, Caci, atau tari lainnya, yang sedang kita pelajari bukan hanya gerakannya.
Kita sedang melihat sebagian kecil dari cara masyarakat Indonesia menyimpan pengetahuan, membangun hubungan sosial, mengekspresikan nilai, dan meneruskan warisan budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dan mungkin di situlah menariknya menjelajahi tarian tradisional Indonesia: semakin banyak yang dipelajari, semakin jelas bahwa Nusantara tidak memiliki satu wajah budaya.
Ia terdiri atas begitu banyak cerita.
